a new day.

Standard
These days should gonna be those days

Which I’ll look back with a happy smile

And a twinkle in my eyes

 

And life will never be the same

A different life than the one we’ve had

From our simple, fun, fairytales

 

It’s strange, it’s a new, new world

It’s loud, it’s a hectic world

I miss my home, I miss myself

And I miss you

And yet, I finally found that love

Inside my soul

And I jump in joy and I sing my heart away

 

Your face is gonna be that face

That I’ll look back with a loving smile

And a warm glow in my heart

 

And love will never be the same

A kind of love that I hold so dear

Yet I’m ready to let it go

 

Will you remember how we are?

Will you stay with me when I try

To be a better one for you?

In this new world…

-nadya fathira, ost perahu kertas

 

Lollipop

Standard

 

 

lolipop

Kadang aku berfikir, bagaimana perjalanan ini akan indah. Yang aku tahu, aku kecil di alam ini. Aku hanya tidak tahu bahwa aku membutuhkan orang lain, bahkan mereka yang tak pernah aku percayai.

Bagaimana harus melangkah, dan kapan harus berhenti. Apakah itu lama, mengambil jalan memutar yang landai, atau jalan singkat tapi curam.

Setiap keputusan selalu membawa resiko, dan kita harus siap menerimanya. Saat kaki ini harus berjalan lambat, sedang mata tak tajam melihat, kita butuh leader, mencarikan jalan dan memimpin kita.

Tapi bagaimana dengan hati? Senja tak berhenti merayapi malam. Dua lampu di dahi dan tanganku seperti tak mampu menyinari langkah. Aku takut. Aku takut berjalan sendirian. Aku takut menjadi yang terdepan tapi juga takut tertinggal.

Aku tetap ingin ada yang menjagaku, mengawasi punggung dan langkah kakiku. Dan  untuk keduanya, aku tak membutuhkan yang sempurna. Cukup temani aku dengan segala takutku lalu melangkah bersama. Sampai akhir.

Michael Buble, Home.

Standard
alone in a crowd

alone in a crowd

 

 

Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home

Maybe surrounded by
A million people I
Still feel all alone
I just wanna go home
Oh I miss you, you know

And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two“I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that

Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky I know
But I wanna go home
I’ve got to go home
Let me go home

I’m just too far from where you are
I wanna come home
And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside

When everything was going right
And I know just why you could not
Come along with me
But this was not your dream
But you always believe in me

Another winter day has come
And gone away
And even Paris and Rome
And I wanna go home
Let me go home

And I’m surrounded by
A million people I
Still feel alone
Oh, let go home
Oh, I miss you, you know

Let me go home
I’ve had my run

Baby, I’m done
I gotta go home

Let me go home
It will all right

I’ll be home tonight
I’m coming back home

Red Riding Hood

Standard
red ridding hood

little red ridding hood

Sragen, 20 April 2015

Bro, bro, inget gak sama dongeng anak dari Prancis, Little Red Riding Hood? Itu tuh, kisah anak kecil yang tiap keluar rumah selalu pakai kerudung merah. Suatu ketika, saat dia hendak mengunjungi neneknya, dia harus berhadapan dengan srigala yang licik. Si kerudung merah ini pertama kali di ilustrasikan di tahun 1927. Tua ya? hahah… Nah malam ini agendaku nonton red riding hood yang diproduksi di tahun 2011.

Jadi ternyata, kalau di film versi modernnya, baju Hoody merah yang dipakai si gadis itu aslinya baju pernikahan yang dibuat oleh si nenek. Nyeleneh juga ya, cerita aslinya kan gadis kerudung merah ini masih kecil, belum siap kawin seperti yang di film alurkan. Ya memang wajar sih kalau film selalu punya sisi yang berbeda dari versi bukunya. Jangankan film, secara klasik aja dongeng red riding hood juga berubah-ubah. Ada yang menceritakan bahwa si nenek sakit, ada yang tidak. Ada yang menceritakan dia membawa anggur dan roti pisang, ada yang hanya camilan biasa. Ada yang mengatakan dia memang melewati kebun bunga lalu melihat-lihat bunga dulu, ada yang mengatakan bahwa di tengah jalan, srigala lah yang menyarankan kerudung merah untuk menuju dan memilih-milih bunga dulu agar lengah dan terlambat sampai ke rumah nenek. Ada yang menceritakan srigala memakan nenek dan si kerudung merah, ada yang menceritakan hanya nenek yang dimakan. Ada yang menceritakan si penebang kayu mengganti perut srigala dengan batu setelah mengeluarkan mangsanya, ada yang menceritakan perutnya dibedah saja.

Tapi mau sebanyak apapun perbedaannya, yang paling nyentrik memang cerita di filmnya. Kenapa? Karena di sini diceritakan bahwa si penebang kayunya tak lain dan tak bukan jugalah si srigala. Dan si kerudung merah itu bisa berbicara dengan si srigala, memahami setiap kata yang srigala ucapkan disaat orang lain hanya bisa mendengar eraman saja. Kalau di Harry Potter kemampuan ini disebut dengan Parseltongue atau Parselmouth, hanya saja untuk bahasa ular, bukan srigala.

Well balik lagi ke filmnya,. ternyata belum fiks kalau penebang kayu adalah srigalanya.hahahah Ya karena sampai saat ini belum ketahuan siapanya. Yang jelas, srigala itu tahu masa kecilnya kerudung merah. Dia tahu bahwa kerudung merah pernah membunuh kelinci, dan itu membuatnya merasa bahwa dia dan kerudung merah tak berbeda, sama-sama pembunuh. Sang srigala berjanji tidak akan membunuh lagi asalkan kerudung merah mau ikut dengannya pergi jauh. Tapi sebelum percakapan mereka kelar, si srigala harus pergi karena diburu Bapa Solomon.

Di sisi lain, fakta-fakta semakin membingungkan. Nenek menuduh Hendry, Hendry menuduh nenek, dan aku menuduh Peter.wkkwkwkw sumpah ya mana aku tau siapa srigalanya wong aku gak nonton sedari awal. Fakta tuduh menuduh antara nenek dan Hendry saja sudah cukup membuatku pusing, belum lagi si Bapa Solomon itu berkuku panjang dengan warna perak, seperti kuku srigala. Semua orang yang terlibat memang pantas dicurigai. Ya kan?

Oke, oke,.. filmnya udah lanjut lagi. Tapi ini film anehnya, si srigala gak pernah berani memasuki gereja. Katanya tanah gereja itu tanah suci, sehingga bila srigala memasuki pekarangannya maka dia akan terbakar. Lha kalau gereja aja secanggih itu, kenapa si srigalanya gak diseret masuk pekarangan gereja aja ya. Kan kalau ditembak jelas gak mempan.  Tapi ya udahlah, yang penting, dari kejadian di gereja ini kita jadi tahu kalau ternyata srigalanya bukan Hendry ataupun Bapa Solomon. Henry menyelamatkan kerudung merah, sedang Bapa Solomon tergigit srigala sehingga dia harus dibunuh. Tapi,,,,,, Petter menghilang. Ke mana???

aku gak tahu filmnya dipotong atau tidak (secara nonton di tv gitu lho, sekali on pasca comersial break pasti langsung nge skip beberapa scene.) nah nah nahhhhhh ini dia, tau-tau masuk ke scene yang memuat dialog paling terkenal dari dongeng little red riding hood. Pas sampai rumah, si kerudung merah tidur sekasur berdua dengan neneknya. Ketika dia terbangun, mereka saling bertatapan kemudian bercakap:

Kerudung merah: Nenek, sepertinya matamu besar sekali.

Nenek: (tersenyum manis). Agar aku bisa melihatmu lebih jelas sayang..

Kerudung merah: Kupingmu juga besar sekali…

Nenek: (kembali tersenyum) Tentu agar aku bisa mendengarmu lebih jelas 🙂

Kerudung merah: Dan… gigimu juga besar sekali…

Nenek: (menyeringai) Agar aku bisa memakanmu… RAAAAAAAAAWRRRRRWWWW

Aakkk, ternyata itu hanya mimpinya kerudung merah. Setelah terbangun, dia buru-buru mengambil keranjang dan snack untuk dibawa ke rumah neneknya. Dia melesat tergegas sembari berpamitan pada ibunya,”Nenek dalam bahaya mom, aku akan ke sana”. Dalam perjalanannya ke rumah nenek, salju turun. Di hutan dia diikuti oleh srigala yang lalu srigala itu tiba-tiba menghilang kemudian muncullah Petter. Kecurigaan kerudung merah tak dapat dibendung sehingga tanpa berfikir panjang dia langsung menusuk Petter lalu meninggalkannya menuju rumah nenek.

Untuk film-film gubahan kaya gini, terlebih yang udah melenceng jauh memang kita jadi sulit menebak siapa-siapanya. Kadang ceritanya jadi semakin tidak masuk akal dan seolah dipaksakan meskipun ya tak akui cerita kali ini memang bagus. Film yang kompleks, di sini kerudung merah hidup dengan drama yang justru diciptakan oleh ayah dan ibunya. Tapi bagaimanapun juga, sekomplek apapun, aku suka bumbu-bumbu di luar alur seperti cinta antara ayahnya Henry dan Ibunya kerudung merah yang setelah puluhan tahun akhirnya terungkap meski dengan mengorbankan nyawa. Aku juga suka bumbu Bapa Solomon yang ringan tangan membunuh orang tapi gak mau dibunuh orang lain untuk kesalahan yang sama dengan alasannya membunuh orang lalin. Belum lagi kisah persahabatan dan permusuhan si kerudung merah dengan pemudi-pemudi di kampunya. Ceileh kampung :p

Trus endingnya gimana? Em,,, endingnya, em… wah kayaknya gak seru ya kalau semua diulas di sini. Alangkah baiknya bila nonton sendiri. Lagian tadi cuma iseng doang nuis-nulis sambil nonton tv. heheh Minggu depan jumpa lagi ya kita. Pingin banget bisa ngulas Allice in Wonderland. Semoga bisa terwujud,hahah aamiin

♪ ♪ ♪ Dat Dit Dut ♪ ♪ ♪

Standard
kentut

kentut

Surakarta, 18 April 2015, 13:35

(¬˛ ¬”) hmmm,,,  Dat dit dut? Mau bahas kentut? Kenapa seperti hendak menuliskan irama dangdut?.. Ya gak papa cuy, anggap aja judul itu sebagai kamupflase biar gak pada langsung muntah. (◡‿◡✿)

Dulu, aku jarang kentut sampai menimbulkan bunyi, mungkin karena getaran gasnya yang terlalu lemah. Aku orang yang gak enakan, jadi selalu menjauh atau meminta ijin dulu sebelum menghembuskannya ke dunia, maklum baunya terlalu mirip jagung rebus. Hubungan kami dulu itu memang belum masuk ke tahap PDKT, jadi aku sendiri kurang paham kapan dia akan muncul ke permukaan. Tapi, setelah dari Bayat, semua berubah. Hubungan kami tak lagi sama, bahkan tanpa malu, aku mengakui bahwa aku memelihara spesies kentut jenis baru. Bunyinya lantang, dengan tekanan kuat, tanpa bau, dan kemunculan hampir selalu bisa diprediksi: tiap aku bangun tidur, tapi untuk periode setelahnya dia akan muncul semaunya, tanpa jadwal. Cool kan? ◔◡◔

Bayat, 23 November 2013

Ini pertama kalinya aku ikut fieldtrip Geophysics, belajar di alam bebas, dan yang bener-bener ngerasain gimana sih berkumpul dengan kawan dan kakak kelas dari melek mata sampai tidur lagi selama empat hari. Di Bayat menurutku sih suasananya lumayan “sejuk”. Jam 03:00 dini hari deh, coba keluar rumah, badan langsung menggigil semua. Iya, jadi waktu itu memang aku, Ninik, Vesta, Galuh, dan Ria memang terbuang di rumah tetangga. Basecamp udah kelawat sesak buat ditumpangi hidup. Nah si Nenek penghuni rumah, gak punya kamar mandi dalam, jadilah aku dan vesta suka keluyuran malam ke kamar mandi masjid* (*red: kamar mandi derajadnya cowok-cowok). Enaknya numpang di kamar mandi cowok tak lain tak bukan adalah karena ada semboyan “Ladies First”. Kami ya,,, datang ke masjid pasti udah ada Yoga dan entah siapa yang juga terusir dari basecamp. Mereka sengaja tidur di masjid biar gak perlu ngantri mandi. Tapi segasik-gasiknya mereka ngantri di kamar mandi, mereka bakalan ngasih kami izin buat mandi duluan.hahha Nah di sinilah kisah kentut itu dimulai.

Dini hari pertama aku ngantri kamar mandi, aku nempel di pintu kamar mandi, mules. Anak-anak duduk di sayap kiri masjid sambil main senter. Maklum memang masih puagi banget itu. Tepat di depan masjid itu kuburan cuy, jadi ngantripun kami tetep kudu bareng-bareng biar suasana gak hororable.hahaa Nah aku lupa dulu ngantri siapa, pokoknya orang itu kentut aja deh. Melengking panjang dengan cengkok yang rada false. Lah ya jelas cowok-cowok pada ngakak. Duh gila, kejadian itu bikin aku down banget. “Jangan deh, semules apapun, pokoknya jangan kentut”, aku berikrar dalam hati. Semenjak kejadian itu, aku hanya bisa kentut tiap lagi sendirian. Nah kapan?? Bayangpun, tiap bangun tidur, aku ngantri kamar mandi. The meaning of ngantri is banyak orang di sekitarku. Habis ngantri kamar mandi, biasalah ya kembali ke rumah nenek buat dandan. Terus ke basecamp, cabut ke lapangan, ngantri kamar mandi lagi, basecamp lagi sampai tengah malam, baru deh ke rumah nenek buat istirahat. Kesempatan untuk sendirian muncul kala aku melakukan perjalanan dari basecamp ke rumah nenek yang cuma berdurasi lima menit doang. Kadang aku jalan duluan, kadang aku melambat-lambatkan langkah biar jadi yang paling belakang. Kalau jalan sendiri, rrr,,, pikir-pikir-pikir dulu dah.hahaa

Biasanya orang lebih sulit Pup daripada kentut kan? Nah aku sebaliknya, di Bayat aku rutin pup tapi susahhhhhh banget kentut. Hasilnya? Perutku sakit. Kalau bahasa Jawanya kaya “suduk-en”, susah menjelaskannya, pokoknya sakit gitu aja. Suatu ketika, di suatu sore, aku, Vesta dan Vico ngantri mandi. Aku lagi di tempat wudhlu buat gosok gigi, Vico di seberang sana, di sayap kiri masjid, duduk jongkok menghadap ke tempat wudhlu. Vesta berdiri di depan Vico dan tau-tau,.

DUUUUUTTT

Vesta: Aduh Vic, sorry ya keceplosaan.

Vico: Iya gakpapa, santai a….

DUUUUUUTTTT

Vico: ….ja lagi.

Vesta: Aduuuuh beneran sorry udah tak tahan tahan e.

Wkwkwkkwkkw sumpah ngakak aku liat ekspresinya Vico dan Vesta. Tapi ya habis itu perut vesta lega sih, sedang perutku masih aja sakit. Ketinggian harga diri cuy. Baru deh surup terakhir sebelum kami pulang, kentut pemalu itu akhirnya keluar. Waktu itu aku lagi mau wudhlu sama Galuh dan Ria. Dan cuy, sekalinya keluar, dia tenang banget, tanpa suara, tanpa tekanan, dan tanpa filter aroma. Busuk buanget baunya. Gak ada lagi bau jagung rebus, gak ada lagi ketenangan bernafas.

Rrr…. Buat Galuh, dan Ria, kalau entah kebetulan apa kalian baca tulisanku, I really really sorry guys. Aku belajar banyak dari kejadian surup itu. Dan sampai sekarang, Galuh kalau lagi bepergian sama aku pasti ngingetin, “jangan ditahan, jangan ditahan”. wkwkwk (≧∇≦)

Semenjak kejadian itu, aku gak pernah nahan kentut. Aku selalu memenuhi bila hajat itu sudah mulai menuntut. Mending permisi menjauh sebentar daripada perutku sakit lagi. Daripada menyakiti paru-paru orang terlebihnya.

Surakarta, 19 April 2015, 00:20

Sekarang, di detik ini, aku sedang duduk sendirian di sudut kamar kontrakan adik tingkatku S1. Di kamar ini ada tiga manusia tertidur pulas setelah sepanjang malam membuatku tak lelap istirahat. Dua setengah hari ini memang aku sakit. Kamis malam itu badan ku menunjukkan gejala masuk angin. Kena udara dikit langsung bergidik, perut kembung, mual dan rasanya pingin banget muntah. Jum’at pagi, aku beneran mengharap bisa kentut sekaliii aja. Tapi sepi. Hampa. Gak ada satu angin pun yang keluar dari badan, baik dari atas maupun bawah.

Rasanya aneh banget, baru juga hari seninnya aku memroduksi banyak kentut, dari pagi sampai malam cuy. Serius, tapi secara ilmiah aku sendiri gak tahu kenapa. Perasaan Pup ku hari senin itu lancar-lancar aja, masa iya karena gas methan pupku yang masih kesisa di usus? Sebanyak itu?? Gak tahu lah. Yang pasti, senin malam itu kan aku belajar di tempat Towow. Awalnya, di kamar cuma ada aku dan Towow. Nah setiap aku mau kentut, aku pasti ke luar kamar. “Ngapa e?” tanya Towow. “Kentut”. “Halah kentut tinggal kentut aja pake keluar”. “Malu lah Wow”…. iye iye, Towow emang lebih doyan kentut dibanding aku, makanya dia bisa berempati kaya gitu. Tragedi muncul saat si Rahmat ikut nimbrung di kamar Towow. Karena aku gak terlalu akrab sama Rahmat, aku makin rikuh kan kalau kentut di kamar. Pas udah kerasa, aku langsung ngibrit keluar, cuma,… belum juga nyampe pintu udah jebol aja pertahananku, diuuuuutt… untung dari tadi gak bau. “Wkwwk dibilangi gak usah sok-sokan keluar kamar kok, udah di sini aja”, kata Towow dengan macho nya. Dan ya, aku nurut. hahaha…

Semakin larut, Ninik, Vesta, Vico, dan Tri ikut gabung. Ada mungkin dua puluh kali aku kentut sepanjang aku di kosan Towow. Saat gak bisa kentut kaya gini, serius kangen banget masa-masa itu.huhu (Actually, percakapanku dengan Towow dilafalkan dalam bahasa Jawa nan medhok)

Yogyakarta, 17 April 2015

Akhirnya aku putuskan untuk ke kosan adikku di Karangmalang, yang ternyata penduduknya juga lagi collapse masuk angin.haha Di sana aku dikerokin dan dipijitin adikku. Aku bisa kentut sekali, dan iya aku keluar kamar karena udah beberapa hari gak berhembus, jadi sekali berhembus pasti bau kan. Aku tunggu sekitar sepuluh detikan, nunggu sampai gasnya mengabar dari pakaianku. Pas aku rasa udah ngabar semua, aku masuk kamar, eh si Tami langsung keluar sambil ngomong kalem “kurang lama di luarnya” hahaha… duh sorry deh Tami, kamu gak bakalan tega juga kan ngebiarin aku yang lemes berdiri lama-lama di luar kamar. ( ˘ω˘ )

Sorenya, aku ke GMC Health Center. Dokternya cantik. Ini dokter yang dulu kumintai rekomendasi cek darah dan urine waktu aku semester tiga.

Dokter: Ada keluhan apa mbak?

Aku: Mual Dok, kalau kena angin langsung mengigil, kembung, gak bisa kentut.

Dokter: Kecapekan ya? Apa lagi setres?

Aku: Hahah dua-duanya sih Dok.

Dokter: Bab lancar?

Aku: Nah itu, tadi pagi gak bisa pup Dok, biasanya rutin kok.

Dokter: Buah, sayur, makan kan? Sama air putih. Tiga itu dibanyakin.

Aku: Makan kok Dok, air putihnya sih rada kurang memang.

Dokter: Tukang ngopi ya? Kurangin. Pedas juga kurangin. Di stop dulu malah harusnya. Ada keluhan lagi?

Aku: rr.. itu Dok, rasanya kayak lapeerr banget. Keroncongan.

Dokter: (senyum cantiikk), tapi udah makan kan?

Aku: Ya udah sih tadi sarapan, tapi terus tadi siang ujian dan belum makan lagi sampai sekarang.

Dokter: Ya udah, sana tiduran dulu.

Aku: (di tekan-tekan) Aaaakk geli

Dokter: Hehehe sabaaar,. Ummm ini normal kok mbak, cuma asam lambungnya memang tinggi. Ini saya kasih resep, bla bla bla….

Aku: Ok, makasih Dok

Yogyakarta, 18 April 2015.

Bangun tidur, alhamdulillah udah bisa kentut. Meski gak se-macho biasanya, aku pikir itu udah pertanda kalau kondisiku membaik. Mmm hanya saja, gak tau kenapa badanku malam makin panas. Aku tiduran lagi. Jam 10:30 baru nyari sayur. Makan dikiiiiitttt banget. Padahal tadi lapar, pas makan langsung kenyang.hoho Ya udah tak simpen aja sisanya buat makan siang. Tapi terus, mau makan tuh beneran gak enak e. Eneg banget rasanya. Mungkin juga karena ada yang membahas hal berat, jadinya perut mulai mual lagi. Sampai magrib itu aku gak makan apa-apa. Sama winda aku dianterin nyegat bus di Janti. Basah kuyup cuy. Pas sampai Janti, pas banget ada bus ekonomi Solo-Jogja yang lagi nge-“tem”. Aku dapat bagian duduk d samping pintu masuk belakang (yang memang disengaja gak oernah ditutup). Beuhh… udaranya membunuh cuy. Jaketku basah, jadi gak bisa menghangatkan badan, boro-boro melindungi dari angin, gak anti angin je. Untungnya aku bawa minyak kayu putih. Alhamdulillah bisa ngangetin badan. Dan,,, sodara-sodara, keajaiban di mulai dari sini. Jok buluk di kursi seberang pintu belakang ini menjadi saksi bisu atas kepulihanku. Pertama, aku bisa kentut keras dan tegas, seperti kentut kesayanganku tiap bangun tidur. Kedua, gak ada yang tau, gak ada yang bau. Ketiga, sepanjang perjalanan ku hitung udah 12 kali aku kentut. Sepanjang perjalanan cuy, kemarin-kemarin kemane ajaaaa???

Surakarta, 18 April 2015

Aku dijemput Atna di terminal Tirtonadi. Semenjak Februari tahun ini memang Atna ngontrak sendirian, jadi kupikir tar malam kami bisa tidur sendiri-sendiri di kamar terpisah. Ternyata, di jalan dia bilang “mbak tar temenku dua orang mau nginep di kos, nanti kita berempat tidur bareng yak di kamarku?”… duhhhh kok malah kaya gini. Aku kan harus menyembuhkan diri dulu. Kalau ada dua manusia gak ku kenal masak iya aku mau dat dit dut sesukaku… “na, aku kentut-kentut terus e dek” “ya udah kentut aja”… beuhhh kalau udah ngomong kaya gitu otakku menerjemahkannya sebagai -> dengan kentutmu, aku yakin kita berempat masih tetep bisa bobok bareng. Gitu.

Kami nongkrong sebentar di ISI Solo, ada beberapa urusan. Ya aku menggunakan moment itu buat beli wedang ronde untuk menghangatkan badan. Di sana kami ketemu sama mbak Angges, kakak tingkatku S1. Mungkin karena wajahku terlalu cantik, jadinya meski di remang malam pun mbak Angges tetep bisa ngenalin aku. “ARUUUMMMMM, Arum yak?” “iya mbak,hahaha” ngobrol deh kami.

Gak lama kemudian, kami pulangke kontrakan. Aku langsung bersih-bersih diri trus mapan tidur. Anak-anak masih pada ribut gak jelas. Yang aku rasain sih, gila’ nih perut udah kebelet kentut, tapi kok gak bisa keluar ya… sampai jam setegah 12 itu, karena gerah banget, aku keluar kamar. Niatnya mau pipis, eh kelar pipis langsung dapat bonus. Kali ini lantang banget, tekanan tinggi, dan kerennya tanpa bau cuy. Aku langsung nyari-nyari alasan biar gak masuk kamar. Sumuk. Aku bilang sama Atna, “tidur duluan aja, aku mau nulis”. Cara ini yang menurutku paling efektif buat nolak tidur umpel-umpelan bak pindang. Dua jam aku nulis, udah 11 kali aku kentut. Gak selalu bunyi sih, tapi udah alhamdulillah banget bisa kentut. Emang ya, ada hal-hal yang kita sulit berbagi dengan orang baru. Kentut di kamar saat lagi rame-rame misalnya. Meski logika (dan teman-teman) udah mengizinkan, tapi sistem tubuh kita yang menolaknya. Sama kaya perasaan, mau logika mengizinkan kaya apapun, kalau sistem tubuh gak mengizinkan ya jatuhnya stress, kalau gak kuat ya sistem kekebalan tubuhnya yang diserang, kaya demam atau asam lambung tinggi. Kalau tingkat stressnya lumayan, mungkin kita akan beruntung diserang keduanya secara bersamaan. :p

Well,, si ya!!!!

Profil Mahasiswa Pendidikan Fisika Angkatan 2007

Standard

well,, cHaaaaaaaa….. celotehan anak fisika 2007, tentang kami. ^^

Aruite

Mohon ma’af sebelumnya, ini cuma sekedar tulisan saya. Kalau mau komplain silahkan…

Semua diskripdi profil angkatan 2007 plus foto versi Revan

Pendidikan Fisika UNS angkatan 2007

  Aprilliana Widyasari NIM : K2307002 Mahasiswi delegasi negara Boyolali yang selalu tampak ceria dan narsis ini, kadang sering cuek & marah marah, sebenarnya supel dan berhati lembut selembut sutra, ktanya sih. Anggota Trio Angel Fisika. Dia juga suka film yang mendayu ndayu (gak tahu maksudnya apa). Fb : Aprilliana Widyasari
  Ayatin Anisa NIM : K2307003Dia Mahasiswi yang maniak anime & J-Lover yang terbilang pintar di kelas. Meski kadang terlihat sendiri, namun tetap bahagia dan selalu semangat. Punya dua panggilan yaitu Ajax dan tencho. Kadang, digosipin dengan teman sekelasnya. Sering bolak-balik SuraKarta-KartaSura. Fb : Ayatin Anisa
  Bening Ika Pertiwiningsih NIM : K2307004 Mahasiswi yang punya dwikewarganegaraan Purworejo-Cilacap aktif di banyak organisasi khususnya HMJ P.MIPA sering muncul penampakanya di seminar sebagai moderator, mc sampai guru les. Aktif nulis…

View original post 2,006 more words

Untuk. ͼ(ݓ_ݓ)ͽ

Standard

Sragen, 26 Maret 2015.

kakak kelas berkata:

Sekali air menetes, ia akan menyebar ke mana-mana. wadahilah kalau memang menginginkannya

ungkapan sederhana untuk menggambarkan relasi antara hati dan rahasia. sekali rahasia keluar menjadi ucapan, ia akan mudah menyebar ke mana-mana. bila kita menginginkannya rapih tersimpan, maka tak ada yang lebih tepat dari hati sebagai wadah penguncinya.

embun

embun

untuk seseorang yang sering aku tulis namanya di sini: aku menyukaimu sama seperti empat tahun yang lalu.

untuk mereka yang terpaksa menyerah padaku: aku minta maaf

untuk entah siapa masa depanku: tolong beri aku waktu.

untuk diriku: semoga lekas sembuh.

air ku menetes di jurnal harian ini. entah akan menyebar ke mana. aku tidak perduli.

Hati adalah wadah rahasia, bibir adalah penutupnya, lisan adalah kuncinya, maka hendaklah kita menjaga kunci rahasianya – HR.Abu Dawud –

tak banyak orang yang akan mencariku di sini. bila “entah siapa” akhirnya datang, ia lah pemegang kunci rahasia.

Me and My Ex’s Wedding

Standard
me n my ex's wedding

me n my ex’s wedding

Gambarnya ceria kan ya? hahahahha iyalah memang seperti itu kok kisah tulisan hari ini.

Sekitar 16 Februari kemarin, ada notif Fb via Gmail. si Ex ngetag aku dalam suatu postingan. Karena memang jarang buka Fb, aku gak langsung ngecek di timeline. Beberapa lama kemudian, mungkin sudah agak berjamur, OL-lah aku yang cantik ini sambil buka-buka Fb. Pas buka timeline review, ternyata si Ex nge tag aku dalam sebuah foto undangan nikah.hehe fiuh,.. Memang lah ya, gak cukup cuma disalip adek-adek tingkat, Ex pun sekarang ikut-ikutan nyalip. Poor me 😀

Aku, gak butuh banyak waktu untuk memutuskan hadir dalam pernikahan si Ex. Seminggu kemudian aku menghubungi sahabatku Devi, memintanya menemaniku kondangan. “mmm, aku pikir-pikir dulu yaa”, katanya… “yah, kenapa? Kamu kan juga udah pernah ketemu sama dia, itu yang kita dinikahannya bejus”, bujukku. “ya tapi kan tempatnya jauh, aku capek krn tanggal itu aku juga baru pulang dari Solo”,. “oh, iya gpp, aku bisa ke sana sendiri,hehehe”

Rr,, agak ragu sebenarnya mau datang sendirian ke sana. Pertama tempatnya memang jauh, kedua aku lupa di mana rumahnya, ketiga aku mudah tersesat di jalan. Tiba-tiba, klunting klunting klunting klunting, banyak banget pesan masuk, salah satunya dari Haka, maklum sinyal jelek di sini.

H: Besok datang?

H: Sama siapa?

H: ditanya kok…

H: Halo mbakyuuuu….

A: Haha gomen gomen, datang in sya allah. Undangannya jam berapa sih?

H: 10. Gmn?

A: Wah pas bgt, besok jam 7 an aku pulang dr Jogja, tak motoran, tar ganti baju dulu trs berangkat

H: Gak bareng aku aja? Mau berangkat sm siapa?

A: Wah kalau sm kamu tar kamu telat, aku jam 10an baru sampai rumah. Sendiri bro, kasih ancer ancer dong

H: Lah km kan udah pernah ke sana? Di desa kan kalau ada yang nikah mesti semua orang langsung tau, tanya aja sm penduduk sana mesti dikasih tau jalannya

A: Masalahnya bro, aku blas gak inget tempatnya mana. Sama pasar Masaran mananya? Trs nama Bapaknya dia siapa? Buat jaga-jaga kalau bsk nanya alamat.

H: KAMU TUH DIUNDANG GAK SIIIIIIHHHHHHHH???

A: Ya diundang. Kenapa jadi galak sih, T.T

H: Ya dibaca kek undangannya!

A: Ya kan undangannya via Fb bro, udah aku download pecah-pecah ini, gak kebaca. 😦

H: Hoalah,, besok aku jemput aja!

A: Ciyus? Kok aku jd terharu sih,hahahaha

Wah, aku pikir-pikir lagi, kalau aku baru pulang besok jam 7, aku bakalan kecapekan banget, takutnya jadi sakit, mending aku pulang nanti sore, pikirku. Jam 3 an sore, setelah asharan aku pulang.

*esok pagi*

Devi: Te, aku udah di lokasi, gak tak jemput ya

A: Ok, bentar. Di mana? Masjid raya apa ikadi? Duduk d mana?

Devi: Ikadi. Nyari deket rumahmu aja. Aku di belakang pake jilbab pink

A: Oks. Otw

Selesai ikut pena ikadi, kami duduk-duduk sebentar di kauman.

Devi: Sarapan yuk

A: Udah, mau ditemani?

Devi: Boleh, dekat sini mana?

A: Itu lotek degan yang pernah kita mampir aja ya

Devi: Ok

*makan*

A: Mampir rumahku dulu yuk

Devi: Enggak ah, aku tugas akhirku belum kelar, malu sama bapak Ibu

A: Ya gak mungkin juga keleus bapak Ibuku mbahas itu. Kamu lho udah ditanyain terus sm Ibuku

Devi: emoh,huhuhuhu

*selesai makan*

Devi: Te, aku mules. Kayane memang butuh mampir rumahmu deh,hahahah

A: Kelakuanmu –_–”

Sesampai di rumah, biasa si Devi diomeli dikit sm Bapak Ibu karena udah jarang main. Trs dia nonton TV sambil nemani aku setrika baju. (apaaaahhhh?? Iya, aku memang malas gila buat setrika jauh-jauh hari ahahah)

Klunting klunting

H : oe udah siap belum? Aku berangkat ya

A : Ok

Devi : Coba coba aku tak liat, orang yang mau kondangan ke tempat Ex tuh dandannya kaya gimana..

Ibu : (dari dapur) HAH? Mantan siapa?

A : (mmm… Dinding di rumah ini memang terlalu tipis) si Ex buk.

Devi: (berbisik) sorry te. Nanti jd pergi sm Haka?

Ibu: (masih dari dapur) HAH??? Haka temenmu yang sering main ke sini itu?

A: (sungguh, dinding di rumah ini sangat-sangat tipis) iyaa

Ibu: (masuk ke ruang tengah) nyumbang berapa? Sini Ibu tambahi. Mas Ex itu mbak, baik banget bla bla bla (ngomong sama Devi)

Tin.. Tin… Haka datang

A: Buk, Arum budhal. (cium tangan pipi)

Devi: Saya jg pamit nggeh bu (cium tangan)

*di jalan*

H: Tar ya, bareng temenku sekalian

A: Temen SMA?

H: Iya

A: Yah, tau dong kl aku pernah ada apa apa sm si Ex?

H: Enggak kok, aman. Hmm kayaknya kita bakalan telat deh, sampai sana tar pas udah bubaran.

A: HAH? Kok bisa? Kan undangannya jam 10

H: Ya perjalanan ke sana kan jauh,. Kalau di desa kan ngunduh mantunya cuma setengah jam an

A: Hmm,, gitu ya.

*masih di jalan*

H: Ngomong-ngomong, aku kok lupa jalannya

A: Lah kamu kan biasa main ke sini

H: Iya tapi kan dari Solo, kl dr Sragen udah lama banget, SMA mungkin.

A: Bro bro….. Itu kali belokannya. Ada tulisan “jalan di tutup kecuali buat tamu”

H: (ngerem, puter balik) iya kayaknya. Pokoknya tar rumahnya di ujung gang, 800 m an lah dr jalan utama.

Pas mentok ke ujung jalan, ada orang kondangan. Kami berhenti di belakang mobil kapsul warna hijau metalik.

A: Ini gak sih?

H: SALAH, DODOOOLLLLLL. Ini mah punya orang lain. Puter puter ah… Buang-buang waktu aja, makin telat nih kita

Temen: Loh kok kita balik? Bukan ini ya? Tunggu woy!

Kami balik lagi ke jalan utama, trus jalan 2 km an, kami nemu gapura besar.

H: Nah ini!!! Kalau ini bener. Ini gapura yang sering tak lewati kalau dari Solo

*sampai tempat resepsi*

Temen: GOMOOOOOHHH,. Ini kan tempat yang tadi! Noh liat mobil kapsulnya, kita kan tadi berhenti di belakang ntu mobil. Ngapain coba muter muter!!!!

A: BUAHAHAHAHAHHAHAHAAHHAHAHA

H: (mlipir ninggalin kami yang ngakak-ngakak di parkiran)

*di tempat resepsi*

H: Ini nikahan, apa pengajian?

A: Dua-dauanya. Diam lah, dengerin orang ngaji.

Selesai mendengarkan pengajian, aku membuka hp, dan TARAAAAA,,, sekian pesan masuk

Ibu: Mbak masih jauh?

Ibu: Mbak udah sampai belum?

Ibu: Mbak udah ketemu mantennya? Dandannya gimana? Cantik gak?

A: Udah

Ibu: Makanannya apa aja?

A: Belum keluar

H: (tau-tau nyeletuk) Ini pegawainya masih di pasar

A: Kok?

H: Iya, beli teh, beras, sama sop-sopan. Jam segini lho, gak canggih amat

A: –_–

Klunting klunting

Ibu (lagi): besok kita sederhana saja ya, gak usah sewa gedung

A: Ya

Ibu: Ngundang 200 orang aja, udah sepasang2 itu. Paling tetangga dekat

A: Ya

Ibu: Bapak sama Ibu gak banyak ngundang temen, tar teman S1 km saja, kan kental banget kekeluargaan kalian

A: Ya

Ibu: Nanti jangan lupa uangnya dikasih ke manten, jangan di kasih ke kotak. Kalau ke kotak itu buat keuarga manten

A: Nggeh juragan

Gak tahu ya, aku kok ngerasa ini cuma sekedar basa basi aja. Kayaknya Ibu tuh menghawatirkan sesuatu tapi gak jelas apa.

Ibu: Mbak, kamu gak papa kan? Kamu gak nangis kan?

Naaahhh iya kan? Sudah kuduga, pasti percakapan dari awal tadi cuma prolog gak jelas.

A: Haka, liat nih WA nya Ibuku

H: BUAHAHAHA…. Masalahnya, memang nuansa kali ini tuh romance banget.

A: ya tapi gak segitunya juga keleus..

A: im ok mom…

Ibu: hmm,, tp Ibu yang gak ok.

A: ?

Ibu: dia itu yang paling Ibu sayang. Soalnya dia sayang sama anaknya Ibu. Gemati, perhatian, santun pula. Sekarang dia udah mapan, udah PNS, anaknya Ibu masih sekolah.

A: 😀

Well,.. Ibuku gak berlebihan sih menilai dia. Dia memang baik. Tapi hubungan kami dulu itu, aku hanya merasa tidak ada manfaatnya. 2007, diwaktu2 menanti hasil SPMB, kami mulai kenal.

Siang. Liburan. Rumah Wega.

Dengan potongan Bob-ku yang baru, baju garis-garis hijau putih, dan celana hitam ketat, aku membuka pintu rumah Wega. Memersilakan dua orang yang memang sengaja main, Raihan dan si Ex, keduanya anak sekolah sebelah. Jadi dulu alur dramanya adalah, Raihan yang sahabatnya si Wega hendak nyomblangin Wega dengan si Ex. Udah ya, kami ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon, akhirnya mereka pamit. Dari sini, dimulailah kencan antara Wega dan si Ex.

Aku sih tahu ini gak akan lancar, Wega suka sama temanku sudah sejak SMP. Mau dicomblangin kaya apa ya pasti sulit. Benar aja, si Ex akhirnya mundur teratur. Malah sering curhatnya ke aku. Kami jadi sering main rame-rame. Temen-temennya dia juga jadi sering main ke rumahku. Sampai dy nembak aku (muahaha istilah jaman dulu lho, “nembak”). Ya karena dia baik, aku bilang iya. Pacaranlah kami.

Dia sering main ke rumah, trus jg main sama teman-temanku di rumah. Kalau aku dan teman-temanku ada acara di rumah, dia gabung. Pernah jalan kaki rame-rame ke alun-alun. Emang sih nongkrong di alun-alun itu norak, tapi gak ada yang norak dari persahabatan kan?.

Kalau mau balik ke Solo, dia biasanya jemput aku ke Sragen trs baru balik ke Solo. Padahal dia gak hendak ngampus. Disitu kadang ortuku merasa terharu. Di Solo, dia sering menjemputku pulang les, menjemput teman-teman kampusku juga. Kalau lagi main trs kecapekan, kami mampir ke kontrakan di Nusukan. Aku tidur di kamar, cowok-cowok tidur di teras. Iya, kami jarang pergi cuma berdua. Selalu rame-rame.

Dia, dan teman-temannya (yang semuanya laki-laki itu) suka memberiku kejutan. Dari mulai kejutan coklat, kue, boneka, dll. Khusus untuk boneka bantal, pilihannya memang konyol. “lihat ini, gambarnya laki-laki memakai kacamata, ada sih yang gambar cewek.” “kok gak yang cewek?” “kan gak harus? Ya aku tau kamu suka yang cewek, tp ini kan aku banget. Cowok. Cakep. Kacamataan. Kurang mirip mananya?” “rr… Gitu ya” “iya”.hhoho… Bantal itu sampai sekarang masih aku simpan di almari. Dan Ibu yang sering nyuci meskipun bantalnya enggak kotor. Ibuku, memang lah super!

Pernah dulu aku main ke rumahnya sekali. Terus kami diajakin bersih-bersih TK. Jadi Ibunya dia adalah kepala sekolah TK, dan karena waktu itu menjelang tahun ajaran baru, kami harus ikut membantu persiapan pembukaan kelas. Mulai dari sulak-sulak debu, nyapu, ngepel, menata bangku, semuanya.

Waktu berlalu, mungkin sekitar empat bulanan. Karena aku masih sangat muda, aku mulai bosan dengan ritme ini. Aku gak ngerti kenapa kita harus main tiap weekend dengan orang yang sama. Mengapa aku harus diperlakukan seperti Princess sedang aku bisa kemana-mana tanpa diantar jemput. Dan,, aku juga gak ngerti kenapa harus pacaran.Lalu, aku minta putus. Iya, semudah itu.

Empat semester berlalu. Kami dipenghujung semester lima. Dia menelponku setelah sekian lama.

Ex: Arum apa kabar?

A: Baik, gimana? Denger2 udah punya pacar.hehe

Ex: Iya.

A: Masih suka nge band?

Ex: Masih, sekarang seminggu sekali aku tampil di Taman Budaya Sriwedari.

A: Seriously? Keren amat! Selamat yaa

Ex: Hahah iya. Tp sekarang megang orgen. Kangen sih sama bass.haha

A: Iya gpp, yang penting semua berjalan lancar. Nyanyi gih.

Ex: Hmm.. Justru itu. Aku nelfon memang pingin nyanyiin kamu. Ini lagu buatanku sendiri, sengaja buat kamu. Simak ya…. (*lalu nyanyi)

A: Uwaahh… Kenapa gak rekaman aja sih?

Ex: Hahaha enggaklah. Sorry ya masih hubungi kamu untuk hal-hal kaya gini

A: Gak papa. Kamu harusnya ngerasa bersalahnya sama cewekmu, bukan sama aku.

Ex: Iya sih, dia sering cemburu setiap aku membahas ttg km. Ya udah, aku cuma mau menyampaikan lagu ini saja,. Setelah ini aku akan menjaganya baik-baik. Kamu juga ya, jaga diri baik-baik

A: Iya….

Aku gak ngerti. Orang kan gak harus menyukai kita dalam waktu yang lama ya? Kita juga gak harus menyukai orang dalam waktu yang lama. Aku udah move on. Dia juga seharusnya sudah move on.

Kami gak pernah berhubungan lagi sampai sekitar 2012 an. Aku jomblo (ya iyalah.hahahaah). Dia enggak. Kami bertemu di nikahan Bejus, salah satu gank kami semasa kami pacaran. Aku datang sama Devi, dia datang sendiri. Gak ada yang berubah, kami masih saling sapa, ngobrol sampai gila, dan yah berpisah lagi dengan baik. “Baguslah, dia benar-benar sudah tidak menyukaiku”, batinku.

A: Bertemu dengannya seperti ini, membuatku teringat bagaimana dulu dia memendam perasaannya tanpa perlu tanggapanku, sekarang aku bisa merasakannya.

Devi: Merasakan apa?

A: Menyukai seseorang secara sepihak

Devi: Ke Kidut?

A: Siapa lagi?

Saat itu, perasaanku sudah sampai berulang tahun. Umurnya udah lebih dari setahun dari pertama aku menyadari kalau aku menyukainya. Kidut, teman SMA yang sudah 5 tahun tidak pernah kutemui. Aneh ya? Saat jatuh cinta seperti itu, aku menolak permintaannya untuk bertemu denganku, sedang aku sendiri sangat tersiksa karena memendam suka. Tapi seiring berjalannya waktu, sekitar dua tahun setelah aku “jatuh cinta diam-diam” itu, aku menerima ajakannya untuk bertemu. Jum’at minggu terakhir di bulan Februari 2013. Boulevard UNS yang mendung, jalanan Solo-Sragen yang diguyur hujan lebat, seperti memberi jawaban bahwa perasaanku selama ini tak lagi harus kusembunyikan. Meski hanya berjalan setengah tahun, aku belajar bahwa setiap perasaan, berhak diperjuangkan. Aku, membawa semua hal baik yang dia ajarkan, dan memulai kembali perasaanku yang dulu. Menyukainya tanpa ikatan apapun. Sampai sekarang. Sampai detik aku menulis ini.

Saat aku sIbuk melamun, acara ngunduh mantunya si Ex udah kelar aja. Orang-orang ternyata sudah mengular bersalaman ke luar sambil pamitan.

H: Udah ngelamunnya?

A: Syeeemm…. Aku tuh ngantuk ya, makanya aku g banyak ngomong.hahah (kan gak bohong ya, aku gak bilang aku gak ngelamun.haha)

H: Yalah yalah.. Nunggu bentar ya. Kita foto-foto dulu

A: Ok…

Enggak tahu ini sebenarnya perasaan apa, mengingat masa lalu memang sangat ampuh untuk membuat galau, terlebih posisiku sekarang terlihat begitu mengenaskan. Hhhhh #deepsigh…. Kami beranjak dari kursi, ikut mengular di detik-detik akhir.

Ex: Astaga,, kamu beneran datang? Foto dulu yaa

A: (mengangguk)

Ex: Sekarang sibuk d mana?

A: Di Jogja,hehe

Ex: Duh jauhnya… Makasih ya arum.

A: Maksih jg Ex…..

Aku menyalami mempelai perempuan dan menyiumnya. Dia pasti sudah lupa kalau dulu akulah yang sering dia cemburui. Ah,,, waktu ya,,, selalu begitu. Mengajarkan pada kita dengan semua hal terbaik yang ia miliki. Meski sangat mahal untuk memintanya mengembalikan masa lalu kita, ia adalah penawar terbaik dari segala rasa sakit. Dan perjalanan jelajah memoar ini, berhenti saat kameramen mulai mengatur gaya. Kami berfoto-foto sampai gila.hahah Selamat menempuh hidup baru, Ex… Semoga bahagia.

Terimakasih, waktu.

Enough.

Standard
woman, prejudice

woman, prejudice

Jangan diulang lagi, menerka-nerka tentangku lalu memutuskan sekehendakmu tanpa bertanya terlebih dahulu. Atau menganggap sama aku dengan hal lalumu yang terdengar getir itu, terlebih mengatakan menyukaiku lalu pergi tanpa bertanya bagaimana mauku. Jangan diulang lagi, semua sikap tidak adil ini.

Karena bila ini adil, aku akan punya kesempatan untuk menjawab. Karena bila ini adil, aku tak perlu mengalami shock dan menyembuhkannya sendiri. Tapi bila ini tetap sebuah keadilan, maka setidaknya aku sudah bisa menilai harus seperti apa: enough, it’s done.